Gaya Busana Anak Muda Taliabu: Antara Tren dan Kenyamanan

Beberapa minggu lalu saya duduk di pinggir jalan pusat Taliabu, melihat anak-anak remaja pulang sekolah. Bukan seragam yang menarik perhatian, tapi bagaimana mereka memadukan baju setelah jam belajar. Ada yang pakai hoodie oversized dengan celana cargo longgar, ada juga yang memakai gamis motif bunga dipadu hijab segi empat warna pastel. Di sudut lain, seorang cowok remaja pakai kaos band metal dan celana jeans sobek ala punk yang mulai pudar. Campur aduk, tapi menarik. Sebagai penulis yang sudah tujuh tahun mengamati gaya hidup, saya merasa perlu ngulik lebih dalam soal pilihan busana di kota kecil seperti Taliabu.
Pengaruh Media Sosial terhadap Pilihan Pakaian
Media sosial, terutama TikTok dan Instagram, punya peran besar dalam membentuk selera busana anak muda sini. Dulu, tren slow fashion atau vintage datang dari majalah dan peragaan busana di kota besar. Sekarang, cukup lihat video kreator konten di Jakarta atau Korea Selatan, model baju yang sama langsung dicari di marketplace. Beberapa kali saya lihat remaja putri di kampung sebelah memadukan rok plisket dengan kemeja flanel. Paduan yang dulu jarang terlihat di Taliabu. Fenomena ini mirip dengan yang dibahas dalam artikel Wikipedia tentang fashion sebagai fenomena global. Akses informasi memberi kita lebih banyak referensi. Tapi di sisi lain, muncul tekanan untuk selalu tampil “update” di tengah keterbatasan toko fisik. Toko baju di sini mayoritas jual pakaian muslim atau seragam kerja. Jadi anak muda sering mesen online, meski resiko ukuran tidak pas besar.
Antara Kenyamanan dan Ikut Tren
Saya tanya ke beberapa teman yang masih remaja. Rata-rata mereka lebih suka baju nyaman dipakai sehari-hari. Tapi ketika ada acara atau kumpul dengan teman, mereka rela pake outfit yang agak “repot” biar sesuai tren. Contohnya rok mini agak ketat atau sneaker tebal yang bikin gerah. Aneh? Mungkin. Tapi itulah realitas gaya busana di era media sosial: identitas visual kadang lebih penting daripada kenyamanan. Di Taliabu, saya lihat juga mulai muncul kebiasaan baru. Beberapa komunitas lokal bikin grup WhatsApp untuk saling tukar baju atau jual preloved items. Cara ini bikin mereka tetep tampil gaya tanpa harus beli barang baru setiap tren berganti. Praktik itu mengingatkan saya bahwa fashion tidak melulu soal mengikuti arus, tapi juga adaptasi dan kreativitas memanfaatkan sumber daya yang ada.
Sebagai orang yang tinggal di Taliabu, saya belajar bahwa gaya busana bukan sekadar kain di badan. Ia cerminan bagaimana kita menavigasi dua dunia: dunia global dari layar ponsel, dan dunia nyata dengan keterbatasan dan kearifan lokal. Remaja di sini tidak hanya niru mentah-mentah. Mereka pilih, olah, kadang campur elemen tradisional seperti kain tenun dengan jaket bomber. Hasilnya bukan fashion sempurna ala majalah, tapi lebih otentik. Mungkin kita perlu lebih sering lihat ke sekitar daripada ke layar, biar nemu inspirasi yang cocok sama identitas kita.

Selengkapnya di: sumber resmi